Erman Suparno: Paradoks Indonesia Jadi Alarm Kebangsaan, Bukan Ramalan Kehancuran

Share

Iphintt.or.id — Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Pusat, Dr. Ir. H. Erman Suparno, MBA, M.Si, tampil sebagai pembicara utama dalam podcast Paradoks Indonesia yang tayang di kanal YouTube DeepTalk. Dalam perbincangan tersebut, Erman mengajak masyarakat memahami berbagai tantangan bangsa secara objektif dan menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat persatuan nasional.

Pada kesempatan itu, Erman kembali menyinggung pernyataan yang sempat menjadi perdebatan publik menjelang Pemilu 2019 mengenai kemungkinan rapuhnya eksistensi Indonesia pada tahun 2030. Menurutnya, narasi tersebut tidak boleh dipahami sebagai ramalan bahwa Indonesia akan bubar, melainkan sebagai bentuk peringatan dini (early warning) agar seluruh elemen bangsa lebih waspada terhadap berbagai persoalan yang dapat mengancam masa depan negara.

“Paradoks ini harus kita sikapi dengan semangat memperbaiki tata kelola bangsa. Jangan dijadikan alasan untuk pesimis, tetapi sebagai dorongan agar kita lebih waspada dan bersatu,” ujar Erman.

Ia menjelaskan bahwa ancaman terhadap Indonesia justru lebih banyak berasal dari persoalan internal, seperti korupsi yang masih mengakar, kesenjangan sosial dan ekonomi, lemahnya tata kelola pemerintahan, serta belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Menurutnya, apabila persoalan tersebut tidak segera dibenahi, maka daya saing bangsa dapat terus melemah di tengah kompetisi global yang semakin ketat.

Baca Juga  Gugatan Rival Tidak Diterima PN Bekasi, PW IPHI Bali Tegaskan Kepengurusan Erman Suparno Sah

Erman menilai Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi negara maju. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk usia produktif yang besar, serta posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik merupakan kekuatan yang harus dikelola dengan baik melalui kepemimpinan yang bersih, kebijakan yang berpihak kepada rakyat, serta pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam penyampaiannya, Erman juga menekankan pentingnya membangun karakter kebangsaan, memperkuat integritas para pemimpin, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, keberhasilan Indonesia pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kuatnya moralitas, persatuan, serta kemampuan bangsa menjaga keadilan sosial.

Ia mengajak generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Generasi muda, kata Erman, harus menjadi pelopor inovasi, memperkuat budaya gotong royong, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa agar Indonesia mampu menghadapi perubahan global yang berlangsung sangat cepat.

Indonesia harus membuktikan diri sebagai bangsa yang tangguh menghadapi tantangan global,” tegasnya.

Erman juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan politik tidak boleh menjadi penyebab perpecahan. Sebaliknya, seluruh komponen bangsa perlu menjadikan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai fondasi utama dalam menjaga persatuan dan membangun masa depan bersama.

Baca Juga  Erman Soeparno: IPHI Turut Mengawal Lahirnya BPKH untuk Menjaga Dana Haji Umat

Di akhir penyampaiannya, sebagai pesan optimisme. Ia menegaskan bahwa narasi mengenai rapuhnya Indonesia pada 2030 semestinya menjadi alarm kebangsaan sekaligus pemicu semangat kolektif untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan, memberantas korupsi, memperkuat ekonomi nasional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjaga persatuan bangsa. Dengan komitmen tersebut, Indonesia diyakini akan tetap berdiri kokoh dan mampu menjadi bangsa yang maju, berdaulat, dan disegani di tingkat global. (nsl)

Sumber: PARADOKS INDONESIA