Wamenhaj RI Ungkap Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar Dam dan Badal Haji, Diduga Libatkan Oknum KBIHU

iphintt.or.id — Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkap adanya dugaan penipuan yang merugikan jemaah haji dengan nilai mencapai Rp1,4 miliar. Praktik ini diduga dilakukan oleh oknum Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) yang menawarkan jasa badal haji dengan tarif sekitar Rp10 juta per orang, jauh di bawah biaya resmi haji domestik yang mencapai sekitar Rp40 juta. Kasus ini terungkap setelah Tim Pelindungan Jemaah PPIH bersama KJRI menerima laporan dari jemaah yang merasa dirugikan. Sebanyak 140 orang diduga menjadi korban penawaran badal haji yang tidak sah. “Badal haji itu jelas penipuan. Tidak mungkin ada layanan resmi dengan tarif Rp10 juta. Ini modus yang merugikan jemaah,” tegas Dahnil. Selain badal haji, pemerintah juga menemukan indikasi penyimpangan dalam pembayaran dam. Jemaah dikenakan biaya sebesar 720 riyal, namun dana tersebut tidak disetorkan ke lembaga resmi Adahi. Oknum KBIHU bekerja sama dengan mukimin (WNI yang menetap di Arab Saudi) membeli dam dengan harga sekitar 400 riyal, lalu mengambil selisihnya untuk keuntungan pribadi. Banyak jemaah mengaku tidak menerima tanda terima resmi dari Adahi, sehingga menimbulkan kecurigaan. “Sudah banyak jemaah kita yang menjadi korban. Oknumnya adalah KBIHU yang bekerja sama dengan mukimin. Tadi malam sudah kita interogasi,” ungkap Wamenhaj. Pemerintah menegaskan akan menindak tegas pihak yang terbukti terlibat. Sanksi administratif berupa pencabutan izin operasional KBIHU akan dijatuhkan, dan kasus ini juga akan dibawa ke ranah pidana. “Kami akan pastikan oknum KBIHU ini kami tertibkan secara administrasi, kami cabut izinnya, dan kami hukum secara pidana,” kata Dahnil. Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut integritas penyelenggaraan ibadah haji. Pemerintah berkomitmen menjaga transparansi dan memastikan seluruh jemaah mendapatkan pelayanan sesuai aturan, sehingga ibadah haji dapat terlaksana dengan aman, tertib, dan penuh keberkahan.(nsl) Sumber: Haji.go.id  

Pasca-Armuzna, Wamenhaj Pastikan Jemaah Haji Gelombang Kedua Disambut Layanan Prima di Madinah

Madinah, iphintt.or.id  — Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia memastikan seluruh layanan bagi jemaah haji Indonesia gelombang kedua di Madinah disiapkan secara optimal. Penguatan layanan dilakukan untuk menyambut kedatangan jemaah dari Makkah setelah menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna. Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa jemaah haji gelombang kedua membutuhkan perhatian lebih besar. Sebab, berbeda dengan gelombang pertama yang lebih dahulu berada di Madinah sebelum puncak haji, jemaah gelombang kedua tiba di Madinah setelah menjalani rangkaian ibadah yang cukup menguras tenaga. Karena itu, seluruh layanan di Madinah diminta benar-benar siap, cepat, dan responsif. Kesiapan tersebut mencakup layanan akomodasi, kesehatan, petugas sektor, dukungan pelayanan bagi jemaah lanjut usia, disabilitas, kelompok rentan, hingga fasilitasi ibadah dan ziarah selama berada di Madinah. Dalam peninjauan layanan di Madinah, Wamenhaj memastikan fasilitas hotel yang akan ditempati jemaah berada dalam kondisi siap. Pemerintah memberi perhatian pada kenyamanan kamar, kesiapan restoran, area lobi, akses lift, serta pengaturan penempatan jemaah agar pelayanan berjalan tertib, nyaman, dan manusiawi. Salah satu perhatian penting adalah penempatan jemaah lanjut usia dan jemaah dengan kebutuhan khusus. Mereka perlu mendapat prioritas agar tidak mengalami kesulitan selama berada di hotel maupun saat menjalankan ibadah di Masjid Nabawi. Selain akomodasi, Kementerian Haji dan Umrah juga menyiapkan dukungan layanan ibadah dan ziarah bagi jemaah selama berada di Madinah. Wamenhaj menyampaikan bahwa kunjungan ke Raudhah akan difasilitasi oleh Daerah Kerja Madinah. Demikian pula ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah, seperti Masjid Quba, Jabal Uhud, dan tempat-tempat bersejarah lainnya. “Raudhah difasilitasi oleh Daerah Kerja Madinah. Begitu juga ziarah ke Masjid Quba, Jabal Uhud, dan lokasi bersejarah lainnya. Semua disiapkan untuk memberikan kemudahan kepada jemaah,” ujar Wamenhaj. Layanan kesehatan juga menjadi perhatian utama. Pemerintah meminta Klinik Kesehatan Haji Indonesia atau KKHI Madinah dan tim kesehatan di sektor untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Petugas kesehatan tidak hanya menunggu jemaah datang berobat, tetapi juga diminta aktif memantau kondisi jemaah sejak awal kedatangan. Langkah tersebut penting karena kondisi fisik jemaah gelombang kedua berpotensi menurun setelah menjalani puncak haji. Aktivitas ibadah lanjutan di Madinah, termasuk keinginan sebagian jemaah untuk memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi dan mengikuti ziarah, perlu diimbangi dengan pengelolaan stamina yang baik. Kemenhaj mengimbau jemaah agar tidak memaksakan diri. Menjaga kesehatan, cukup istirahat, banyak minum air, serta mengikuti arahan petugas menjadi bagian penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah di Madinah dengan aman, nyaman, dan khusyuk. (nsl) Sumber: haji.go.id